*Mengapa terjadi "Bullying" di Sekolah?* | http://www.soeara-peladjar.com/2017/12/mengapa-terjadi-bullying-di-sekolah.html
Oleh: Yugo Triawanto, Islamic Parenting Ideologis (IPI Community)
📌 JOIN TELEGRAM - https://t.me/Soeara_Peladjar
SOEARA-PELADJAR.COM - Sedih rasanya hati mendengar. Di daerah Ogan Komering Ilir Sumatera selatan terjadi peristiwa bullying atau biasa dikenal dengan istilah perundungan. Perundungan terjadi saat akhir pembelajaran mendekati bel istirahat. 7 siswa menganiaya salah seorang siswa dan ditonton oleh teman - temannya bahkan direkam oleh kakak kelasnya (https://video.okezone.com/play/2017/12/17/1/106685/kasus-bullying-kembali-terjadi-pada-siswa-sd)
Kasus perundungan atau bullying adalah kasus yang sangat memprihatinkan. Bukan hanya bagi sekolah, namun juga bagi keluarga dan masyarakat. Begitu sedih hati mendengar dan melihatnya. Peristiwa yang tak seharusnya terjadi, kenapa malah sering bermunculan. Terlebih kasus bullying ini terjadi di dunia pendidikan, tentu ini adalah sebuah fakta ironi yang memilukan. Orang tua yang mempercayakan pendidikan anaknya kepada sekolah kini menjadi was-was, takut anaknya cedera. Namun, yang perlu di garis bawahi bersama adalah sekolah hanyalah sarana dan mitra untuk menguatkan pendidikan. Jika ada kasus seperti ini, kita tak bisa serta merta bisa menyalahkan sekolah. Karena sejatinya pendidikan utama di sekolah adalah pendidikan akademik. Dan kalo mau jujur, sebagian besar waktu anak tidak berada di sekolah. Di sekolah mungkin sekitar kurang lebih 7-8 jam. Sisanya, sebagian besar anak ada di rumah. Sehingga, janganlah berpikiran jika anak sudah berada di sekolah maka langsung serta merta jadi sholeh dan sholehah. Hanya sepertiga waktu dalam sehari anak ada di sekolah, selebihnya di luar sekolah. Maka adilkah jika kita menuntut segala kebaikan harus ada di sekolah?
Sekolah dimanapun tidak mungkin nyaman dengan terjadinya peristiwa perundungan. Apalagi, beberapa video perundungan telah menjadi viral di berbagai media sosial dan dinikmati oleh berbagai generasi. Maka, mari berhenti berpikir semuanya adalah salah sekolah. Karena dalam pendidikan anak bukan sekedar tanggung jawab sekolah saja. Ada domain tugas orang tua, ada pula tugas domain sekolah.
Pola pikir dan pola sikap anak yang masih dalam proses perkembangan sangat dipengaruhi dari apa yang mereka lihat. Cyberbully salah satu hal yang mengisi pemahaman mereka. Sungguh parental guide sangat penting dalam perkembangan mereka. Interaksi orang tua dan anak yang intens menjadikan proses belajar anak terkait kehidupan bersosial lebih terjaga. Hal ini akan lebih maksimal lagi jika orang tua mengupgrade diri terkait pemahaman agama secara periodik. Semisal seminggu sekali mereka mengkaji Islam.
Sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan secara klasikal, sedangkan orang tua adalah bagaikan guru private kepribadian bagi anak. Kepribadian Islami anak akan timbul dengan kepribadian orang tua yang Islami.
Sebagai orang tua yang mengharapkan kualitas anak yang Islami, maka harus dekat dengan Islam. Bukan malah para orang tua memiliki rasa Islamophobia. Pemahaman dan sikap mental orang tua yang selalu mengambil standard Islam dalam segala aspek, pastilah memberikan efek positif kepada anak karena mereka melihat dari orang tua.
Mengkaji Islam secara menyeluruh dan meyakininya dalam perbuatan akan menanamkan pola pikir dan pola sikap Islami pada generasi muda. Islam tak akan lekang oleh masa, jadi jangan bingung menghadapi generasi Z atau generasi milenial sekarang. Semoga Institusi besar berdasarkan Islam segera terwujud demi masa depan anak kita yang lebih baik. Wallahu a'lam bishawab. (az)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar