Masyarakat Diminta Beli Produk Lokal
Senin, 03 Oktober 2016, 14:00 WIB
JAKARTA — Pendiri Gerakan Beli Indonesia, Happy Trenggono, mengatakan, sebetulnya produk dalam negeri tidak kalah saing dengan barang impor. Sayangnya, produk buatan Tanah Air masih belum semuanya hadir di pasaran.
"Kita sebenarnya mempunyai produk yang sama dengan negara lain. Cuma produk ini tidak hadir di pasar. Kenapa? Karena karakter pembelaan bangsa Indonesia terhadap produk sendiri sangat rendah. Sekarang kita membuat pesawat, tapi pesawat kita masih sedikit dibeli perusahaan dalam negeri," kata Heppy di Jakarta, Ahad (2/10).
Perdagangan bebas yang dijalankan Indonesia dengan banyak negara menjadi persoalan baru untuk industri dalam negeri. Sebab, produk yang diimpor ke Indonesia biasanya lebih murah dibandingkan dengan produk serupa yang dibuat industri indonesia.
Menurut Heppy, berbagai perjanjian yang diikuti Indonesia, seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Kawasan Perdagangan ASEAN-Cina (ACFTA) mendatangkan tekanan cukup kuat. Ini mengingat produk dalam negeri memiliki banyak kesamaan dengan hasil yang diproduksi negara-negara yang tergabung di MEA dan ACFTA. Misalnya, produk elektronik, manufaktur, tekstil, ataupun makanan.
Heppy mengatakan, bahkan produk dari negara-negara MEA dan ACFTA memiliki harga yang lebih rendah ketika masuk ke Indonesia. Guna menahan laju produk impor, Heppy mengatakan, masyarakat Indonesia harus memiliki keinginan untuk membeli produk dalam negeri.
Menurut dia, pembelian produk industri ataupun hasil usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam negeri akan memberikan efek ganda. Pasar yang membutuhkan produk dalam negeri nantinya akan membuat industri dan pelaku usaha lain meningkatkan jumlah produk. "Kalau tidak ada kesadaran dari rakyat untuk membeli produk dalam negeri, maka akan susah membangun ekonomi negara," ujar Heppy.
Heppy mengatakan, pemerintah telah meminta industri untuk menggenjot kapasitas produksi. Tetapi, pertumbuhan jumlah produk ini tidak akan terserap maksimal jika masyarakat tidak menciptakan pasar untuk produk tersebut. Artinya, untuk membangun ekonomi, tidak cukup mendorong industrinya saja.
Heppy mencontohkan, salah satu negara yang baik dalam menyerap produk buatan dalam negeri adalah Jepang. Meski banyak produk yang masuk ke negara tersebut, masyarakat Jepang tetap membeli produk industrinya walaupun harga produk tersebut lebih mahal. "Ini yang harus kita contoh," kata Heppy.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perdagangan Benny Sutrisno mengatakan, anggaran belanja nasional sebaiknya digunakan untuk membeli produk dalam negeri, bukan impor.
"Anggaran belanja negara ini harus digunakan buat beli barang produk di dalam negeri, jangan impor. Kenapa harus lokal? Soalnya masih banyak kementerian dan lembaga masih mengimpor barang luar yang bisa kita buat sebenarnya," kata Benny.
Benny mengatakan, untuk menjaga ketahanan perekonomian Indonesia, seluruh kalangan masyarakat Indonesia bisa memaksimalkan produk lokal. Bukan hanya mengandalkan konsumsi masyarakat, tapi konsumsi itu malah barang dari luar.
Benny menyebut, keikutsertaan Indonesia dalam Free Trade Agreement (FTA) dengan sejumlah negara masih belum menguntungkan industri Indonesia. Meski komoditas Indonesia lebih mudah masuk ke negara lain, sektor manufaktur yang nilai barangnya lebih tinggi justru membanjiri pasar dagang dalam negeri. rep: Debbie Sutrisno ed:Citra Listya Rini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar