Sabtu, 01 Oktober 2016

Fokus

.

FOKUS

Anda tentu ingin berhasil menjadi orangtua. Anda tentu berkehendak agar anak-anak berhasil dalam kehidupan mereka, sekarang dan sampai tua kelak. Berhasil pada berbagai aspek kehidupan; karakter, moralitas, pendidikan, pekerjaan, lingkungan sosial, kesehatan, dan sebagainya.

Agar tujuan itu tercapai, apa yang perlu dilakukan?

Mayoritas orang mengatakan, harus fokus pada anak-anak. Harus mendahulukan anak-anak. Harus menomorsatukan anak-anak.

Sayangnya, tidak sedikit, bahkan sangat banyak, orangtua yang dalam berfokus dan mementingkan anak-anak itu justru mengabaikan hubungan dengan pasangannya (istri/suaminya). Bahkan, mengabaikan pertumbuhan dan perkembangan dirinya sendiri.

Prinsip dasar parenting adalah TELADAN.

Bagaimana mungkin Anda membuat anak-anak sukses dalam kehidupan jika tidak berdasar pada teladan?

Apa yang Anda teladankan jika Anda membiarkan hubungan dengan pasangan -- yang adalah ayah atau bunda dari anak-anak Anda -- meranggas, mengering, atau bahkan penuh onak duri?

Apa yang Anda teladankan jika Anda dan pasangan lebih sering mengakhiri perbedaan pendapat dalam pertengkaran?

Apa yang Anda teladankan jika Anda membiarkan suami/istri berselingkuh demi nama baik keluarga besar?

Apa yang Anda teladankan jika Anda hanya dapat memendam rindu kepada pasangan yang sangat sibuk bekerja dengan alasan demi keluarga -- padahal jauh di pikiran bawah sadarnya, sesungguhnya adalah demi aktualisasi diri sendiri?

Apa yang Anda teladankan jika Anda dan pasangan makin lama makin sulit mengungkapkan perasaan pribadi terdalam dan setiap perbincangan hanyalah soal tugas-tugas rumah tangga dan tentang perkembangan anak-anak?

Apa yang Anda teladankan jika tidak ada keintiman diantara Anda dan pasangan?

Dari mana anak-anak akan mengenal, belajar dan berlatih mempraktikkan "bahasa cinta" atau perbuatan-perbuatan mengasihi saudara, keluarga dan pasangan, jika hubungan Anda berdua lebih berdasarkan kewajiban rumah tangga?

Kemudian, dimana efektifnya kata-kata Anda bahwa "Nak, kau harus gantungkan cita-citamu setinggi langit," atau "Jadilah dirimu sendiri," atau "Kau sungguh istimewa dan cemerlang," jika Anda sendiri, sebagai pribadi, sesungguhnya ragu akan kata-kata positif yang Anda ucapkan itu karena Anda sendiri takut atau bahkan tidak pernah menjadi diri sendiri? Bahwa Anda sendiri tak peduli lagi pada segala harapan Anda? Bahwa Anda sendiri bahkan tidak tahu apa saja kehebatan, keunggulan, keistimewaan, kedahsyatan dan kecemerlangan diri Anda?

Apa yang Anda teladankan kepada anak jika Anda sendiri tidak tumbuh dan tidak berkembang?

Gelas kosong.

Semua itu sama saja dengan meneladankan bahwa gelas kosong itu tidak apa-apa. Bahwa gunung gundul itu tidak apa-apa. Bahwa atap tanpa genteng itu tidak apa-apa. Bahwa topi tanpa kepala itu tidak apa-apa.

Fungsi utama gelas adalah menjadi wadah, bukan menjadi hiasan. Maka, ketika dewasa kelak, anak Anda akan menjadi gelas indah yang berdebu di dalam lemari. Sementara gelas-gelas lain, entah dari kristal, beling, plastik atau seng, sukses menjadi wadah bagi kopi, teh atau apa pun yang menyehatkan dan bermanfaat bagi orang lain. Gelas-gelas yang mungkin retak atau usang, namun itulah memang sejatinya pertumbuhan dan perkembangan sebuah gelas, dari pabrik hingga tiba di restoran atau dapur rumah.

Ringkasnya:

1. Anda benar jika peduli dan mencintai anak-anak Anda.
2. Buktikan kepedulian dan cinta Anda, dengan merawat hubungan Anda dengan pasangan.
3. Prioritas nomor satu adalah tumbuh-kembangkan diri Anda sendiri.

Cara menjadi orangtua terbaik adalah fokuslah pada hubungan Anda dengan pasangan. Cara agar menjadi pasangan yang baik adalah fokuslah untuk mengembangkan diri sendiri.

Pribadi yang terluka akan membuat hubungan terluka. Hubungan yang terluka akan membuat usaha-usaha membangun dan merawat keluarga menjadi tidak paripurna.

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar