.
Seorang gadis Jakarta asal Sumatra belakangan merebut perhatian. Ia menjadi pesohor dunia maya berkat vulgarisme yang disandangnya : tampil seronok, ucapan kasar, atau laku cabul berskala lebay.
Namun bukan itu yang menarik. Justru karena dulu ia begitu manis, berhijab, dan menyandang peringkat tiga Ujian Nasional se-provinsi. Tampaknya ia telah diajari shalat, hijab, mengaji, matematika atau IPA.
Namun kita sering lupa, bahwa anak juga perlu memiliki identitas diri yang kuat, bertahan atas ganasnya budaya kota, percaya diri dalam keberbedaan, tangguh atasi derasnya arus sosial. Ya, pendidikan aqil-baligh.
Terkadang ada juga ayahbunda yang begitu fulltime mendidik anaknya, tetapi lebih fokus pada pendidikan akademik dan syari'at, lupa pada hal yang sangat penting, yaitu pendidikan kedewasaan (mukallaf).
Nah, adalah tugas orangtua untuk mendidik anak-anaknya agar bisa diawasi oleh dirinya sendiri dan merasa senantiasa diawasi Allah, karena ayahbundapun tak mungkin 24 jam mengawasi anak-anaknya.
Apakah ini tentang jatidiri?
Seharusnya, penemuan jatidiri sudah harus terjadi sebelum anak mencapai usia 15 tahun, dengan bantuan ayahbundanya. Tapi saat ini sampai usia 30 tahunpun ada yang belum menemukan jatidirinya.
Orangtua memang seharusnya menyiapkan anak-anaknya untuk sanggup menghadapi lingkungan dan kondisi terburuk sekalipun. Kota memiliki begitu banyak keburukan, namun juga menghadirkan berjuta kebaikan.
Cara terbaiknya adalah dengan mendidik mereka di tengah kehidupan nyata. Jangan pernah sembunyikan mereka dari realitas, lalu siapkan untuk mereka "kendaraan" terbaik.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar