Minggu, 02 Oktober 2016

Remaja

.

Sebuah generasi yang mengalami kebingungan dan kegalauan identitas dan orientasi diri telah lahir. Generasi itu bernama REMAJA. Inilah generasi yang terlalu terlambat aqil dan terlalu cepat baligh. Nafsunya telah bergejolak dahsyat tanpa kendali akal. Fenomena transisional yang abu-abu ala remaja ini menjadi sasaran empuk segala yang abu-abu pula.

Wahai AyahBunda,

Begitu sibuknya mendidik anak-anak dengan taklif syar'i, seperti shalat, mengaji, menutup aurat dan sebagainya, tetapi lalai untuk menjadikan mereka mukallaf secara mental, finansial, tanggung jawab, kemandirian dan sebagainya. Anak-anak yang berhasil di-mukallaf-kan dengan pendidikan dari orangtua, insya Allah lebih siap menghadapi kehidupan nyata di usia lebih belia, termasuk menikah.

Me-mukallaf-kan anak sebenarnya susah-susah mudah. Anak-anak jalanan, yang tanpa direkayasa, justru aqil-baligh dengan sendirinya. Demikian pula yang masih terjadi di suku-suku terasing hingga saat ini. Mereka didewasakan oleh KEHIDUPAN.

Sebenarnya, pola asuh dan pendidikan orangtua sendirilah yang menghalangi mereka menjadi aqil-baligh secara bersamaan pada waktunya. Pertanyaannya, Ikhlaskah orangtua "melemparkan" anak-anaknya ke dalam kehidupan nyata, ke dalam sebuah pendidikan "kawah candradimuka" ?

Meng-aqil-kan anak tak bisa dilakukan oleh sekolah. Ini harus dilakukan oleh orangtua. Ada dua pendekatan utama :

Pertama : menekan tibanya baligh agar tidak terlalu cepat. Caranya dengan menghindari makanan berlebihan (over nutrisi), sering-sering berpuasa, menghindari makanan yang menstimulasi hormon berlebihan (hewan suntik hormon), menjaga mata anak-anak dari hal-hal yang merangsang seksualitasnya, menjaga telinga anak dari mendengar ucapan cabul, serta membiasakan mereka dengan masalah kehidupan.

Kedua : meng-akselerasi aqil agar lebih cepat. Caranya : Biasakan hidup berjuang, belajar mencari nafkah sendiri, aktifkan dalam berorganisasi, latih memecahkan masalah dan mengambil keputusan, biarkan dia bertanggung jawab atas perbuatannya, biarkan dia memikul risiko atas keputusannya.

Saat anak kita berusia 7 tahun, posisikan diri orangtua sebagai ADULTHOOD SUPERVISOR (Penyelia Kedewasaan). Penyelia Kedewasaan (Adulthood Supervisor) adalah: Mendukung anak untuk menjadi orang dewasa dengan membimbing, mendampingi, dan menemani. AyahBunda adalah konsultan kedewasaan anak-anaknya.

Dalam hal ini, PERAN AYAH SANGAT PENTING. Permasalahan para orangtua saat ini dalam meng-aqil-baligh-kan anaknya secara bersamaan adalah : AYAH ABSEN dalam mendidik anak, PASANGAN yang menikah menunggu mapan, ANAK termanjakan, tak tega menyuruh anak berjuang, anggapan keliru : dia masih terlalu kecil memikul masalah, kesibukan mencari nafkah melalaikan pendidikan, waktu minim untuk anak, dibalas lewat makanan berlebihan.

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar