Lesson # 1 : The Power of Resiliency.
Saat disergap peristiwa tragis yang memilukan, sebagian orang hanya terpuruk dalam duka dan meratapi nasib.
Sebagian lagi merespon tragedi itu dengan “bergerak” : do something.Sebab memang cara paling jitu untuk melawan kesedihan adalah dengan berbuat sesuatu.
Bukan terus menerus melamun, meratapi nasib. Rico yang masih sekolah SMA saat rumahnya dan harta keluarganya terbakar habis, memutuskan untuk bergerak mengubah nasib.
Mungkin ini juga keajaiban dari prinsip the power of kepepet. Saat Anda terjepit, Anda justru punya energi lebih untuk berbuat sesuatu.
Resiliensi. Daya juang. Kegigihan untuk memperbaiki nasib. Ini adalah kepingan pertama yang mungkin telah diperagakan dengan baik oleh sosok anak pedagang arloji bernama Rico.
Lesson # 2 :
Never Give Up SpiritDari cerita diatas, sebenarnya Rico berkali-kali mengalami kegagalan saat mau memulai usahanya.Namun ada pepatah : saat Anda jatuh 6 kali, Anda harus bisa bangkit 7 kali. Intinya kita harus terus bangkit berulangkali, hingga akhirnya kegagalan itu bosan menemui diri kita.Memulai usaha yang sukses mungkin juga perlu trial and error.
Anda harus mencoba melakukan action, lalu menemui kegagalan, dan kemudian belajar dari kegagalan itu untuk merajut aksi yang lebih baik di kemudian hari.Take action. Fail. Learn from mistakes. Move on. And then take better action.
Dengan kegigihannya, Rico menghadapi kegagalan demi kegagalan dengan terus bergerak maju. Bukan menyerah ditengah jalan dan berhenti.
Lesson # 3 :
Street SmartSaat ini usia Rico baru 21 tahun, dan ia hanya lulus SMA. Ia tidak meneruskan ke bangku kuliah karena mungkin lebih mau fokus membesarkan usahanya.Kenapa anak muda belia seperti dia, yang cuma sekolah SMA, bisa meraih sukses dari usahanya.
Mungkin itulah yang disebut sebagai street smart. Sebuah kecerdasan jalanan yang dibentuk dari pengalaman langsung dilapangan, menjalani roda usaha, menemui kegagalan dan terus gigih maju meski kendala banyak menghadang.
DEMIKIANLAH, sekeping cerita dan pelajaran yang bisa dipetik dari perjanan seorang Rico – anak dari keluarga sederhana yang gigih berjuang mengubah nasib. Rumah Kami Ludes Terbakar, Harta Keluarga Kami Lenyap, Tapi Meratap Bukanlah Jalan Keluar
Malam itu mungkin akan selalu dikenang dalam ingatannya. Kobaran api yang menyala melalap habis rumah keluarganya, melumat semua isi harta yang ada dialamnya. Ditengah kobaran asap pekat dan menatap rumahnya pelan-pelan roboh, ia hanya bisa speechless. Ia lalu hanya bisa memeluk ayah dan ibunya dengan rasa duka yang amat mendalam.
Ayahnya sendiri hanyalah pedagang arloji dengan kios kecil alakadarnya. Tragedi kebakaran itu membuat ekonomi keluarga kian terhimpit dalam kesulitan yang amat terjal.
Dengan sisa harta yang tersisa, sang ayah melanjutkan dagangannya. Terseok-seok dalam duka dan keletihan. Semua demi masa depan anak-anaknya.Rico, sang anak saat itu masih sekolah SMA. Dalam duka, ia acap tak tahan menahan tangis di sudut kamarnya yang sederhana, demi melihat perjuangan sang ayah mendedikasikan segenap energi yang tersisa untuk meneruskan bahtera kehidupan keluarga.Namun meratap mungkin bukan jalan keluar. Rico akhirnya bertekad untuk mencari nafkah sendiri untuk membantu meringankan beban ekonomi orang tuanya.Ia memulainya dengan berjualan nasi uduk di sekolahnya. Ia beli dari tetangganya dan lalu ia jual kepada teman-temannya di sekolah. Malang, pihak sekolah langsung melarang kegiatannya.(Kadang institusi sekolah justru yang paling awal mematikan spirit kemandirian usaha yang ada dalam siswanya. Sebuah fakta yang mungkin layak direnungkan).Tak menyerah, Rico lalu berjualan kaos oblong. Dengan tabungan alakadarnya, ia kulakan kaos dan lalu menjualnya selepas jam sekolah.
Sayang usahanya ini juga kandas ditengah jalan.Rico juga sempat membuka usaha kuliner dengan berjualan mie ayam. Namun sayang, usaha ini juga berakhir dengan kegagalan.Beberapa kali dijemput kegagalan, membuat dirinya sempat shock dan sedih. Beruntung rasa percaya dirinya masih tersisa.Sebab rasa percaya diri dan harapan yang masih tersisa adalah bekal yang amat krusial untuk meneruskan perjalanan mengubah nasib.
Dengan tabungan yang sedikit tersisa, plus pinjaman dari saudara ia lalu menjalani usaha berikutnya. Kali ini ia mencoba berjualan secara online, melalui online shop.Ia memulainya dengan berjualan asesori handphone – sebuah produk yang ia pikir banyak peminatnya. Ia memasarkan jualannya melaui media Kaskus, Twitter dan Instagram.Kali ini ternyata pelan-pelan jualannya laku. Dari hanya beberapa item terjual per hari, makin lama makin besar. Sebab omzet jutaan memang selalu dimulai dari rupiah pertama. Tidak muncul dalam semalam.
Kini empat tahun sudah ia menekuni usaha online shop-nya dengan berjualan asesoris gadget. Sekarang ia sudah memiliki 2000 reseller, dan mampu menjual hingga 1000 item barang per hari. (Jika harga tiap item asesori rata-rata Rp 25 ribu, maka bisa kehitung berapa sales per harinya).Sebuah pencapaian yang mengesankan mengingat usia Rico sekarang baru 21 tahun.
(Beberapa waktu lalu, saya menulis artikel tentang bagaimana mempunyai saldo tabungan Rp 1M sebelum usia 35 tahun.
Kisah diatas sekali lagi membuktikan, target itu adalah sesuatu yang achievable).Ada tiga pelajaran yang mungkin layak dikenang dari Rico, anak dari pedagang arloji kelas kaki lima, yang kini sedang bergerak menjadi seseorang dengan pencapaian usaha yang istimewa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar