Senin, 03 Oktober 2016

Anak & Cinta

Ini ada tulisan bgs..silakan dibaca d wkt luang krn lmyn pjg..

:: Mendidik Anak dengan Cinta ::

Ceritanya, April yang lalu, saya berkesempatan berada sepanggung dengan beberapa ibu hebat, dalam sebuah seminar parenting yang temanya adalah ‘Kekuatan Sentuhan Cinta’. Para ibu hebat itu adalah: Ibu Siti Oded (Istri wakil walikota Bandung), Bunda Ria Mulianti (Istrinya Kak Eka Wardhana-Rumah Pensil Publisher), dan Teh Ninih Muthmainnah (Istri Aa Gym). Masya Allah.

Bunda Ria Mulianti menceritakan pengalaman beliau dalam mendidik keempat putranya. Beliau adalah seorang yang cukup sibuk di luar rumah, karena punya amanah di Rumah Pensil Publisher, sanggar gambar rumah pensil, dan juga menggawangi creative women community.

Tapi,kesibukan beliau tidak membuatnya lupa untuk mendidik anak-anaknya untuk mencintai dan meneladani Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Hasilnya: anak pertama beliau adalah anak yang sangat ingin berjihad ke Palestina. Bahkan di usia 12 tahun, bilang ke bundanya: “Bun, aku sudah menabung…ini celengan aku, tolong izinkan aku berangkat ke Palestina ya. Aku sedih melihat anak-anak Palestina tidak bisa sebahagia aku di sini.”
Bunda Ria akhirnya mengarahkan anaknya, untuk berjihad dengan pena. Anak tersebut diarahkan untuk menulis buku, dan ia akhirnya menulis satu seri buku cerita anak tentang jihad dan anak-anak Palestina. Buku tersebut sudah habis terjual 1000 eksemplar dalam 10 hari saja!

Menurut pengalaman bunda Ria, cara paling efektif untuk mengajarkan anak nilai-nilai kebaikan adalah dengan cara mendongeng (selain keteladanan tentunya). Sehingga beliau tidak pernah melewatkan malam tanpa mendongengkan kisah rasul dan para sahabat kepada anak-anaknya. Mendongeng, tidak harus dengan style pendongeng yang sangat ekspresif, yang mungkin sulit kita tiru, tapi lakukanlah dengan cinta, sehingga dongeng kita akan sampai ke hatinya..

Prinsipnya, kalau anak-anak sudah mengenal Tuhannya, Rasulnya (melalui dongeng), maka insya Allah mereka akan mencintai Allah dan Rasul. Bukankah itu yang kita harapkan? Anak-anak yang mencintai Allah dan Rasul, sehingga mereka tidak akan melakukan hal yang tidak disukai oleh kekasihnya itu?
Di sini, yang terpikir oleh saya adalah “Duh….sudah sejauh mana saya mengenalkan Allah dan juga Shiroh kepada anak-anak? Mengenalkan mungkin sudah, tapi sudahkah saya secara konsisten berikhtiar menumbuhkan cinta mereka pada Allah dan Rasul serta para sahabat? (Hiks…tamparan pertama).”

Lalu, Umi (Bu Siti Oded), menceritakan dahsyatnya dampak rumah cinta. Beliau menceritakan fenomena anak-anak di Sukabumi yang 60% dari 200 anak usia remaja yang dijadikan objek penelitian, ternyata sudah melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Astaghfirullah….astaghfirullah…..kalau di kota kecil saja begitu, gimana kabarnya dengan anak-anak kita yang hidup di kota-kota besar? Tambahannya…Umi cerita, bahwa ketika berkunjung ke beberapa pesantren, lalu bertanya kepada para santri tentang siapa idola mereka, rata-rata jawabannya adalah para artis (lokal dan korea). Duh….apakah mereka tidak mengenal Rasulullah? Sang manusia mulia nan sejati cintanya.

Itulah sebabnya, Umi menekankan bahwa cinta, adalah dasar dari pendidikan dalam keluarga. Hanya dengan bangunan cinta yang kokohlah, anak tidak akan keluar dari pakem yang disepakati dalam keluarga. Sehingga, kata-kata “membentengi” anak, sejatinya bukanlah membentengi secara fisik (memproteksi fisik anak dari lingkungan yang tidak baik, dll). Melainkan membangun benteng tersebut dalam diri anak, sehingga tercipta resiliensi (kemampuan anak untuk selalu berada dalam pakemnya, dalam koridor yang ditetapkan menjadi nilai terbaik untuk dirinya dan keluarganya) di manapun anak berada dan dengan siapapun anak bergaul. Resiliensi ini hanya akan terkokohkan dalam diri anak, bila di rumah cintanya sudah terbangun. Sehingga tidak ada tempat lain yang lebih nyaman bagi si anak, selain di rumahnya sendiri.

Berikutnya, yang selalu harus menjadi pegangan utama dalam mendidik anak, dan kembali diingatkan oleh teh Ninih: “Yaa Bunayya…Laa Tusyrik Billah”. Teteh cerita, sebelum ke hal lainnya, pastikan dulu bab ini sudah mantap. Bab ketauhidan, yang menjadi dasar dari agama Islam. Sehingga, insya Allah pertanggung-jawaban kita kelak akan lebih ringan. Lalu, yang orangtua sering lupa: TAUBAT!!

Kita sering merasa anak sulit diatur, anak banyak membantah, anak tidak sesuai harapan. Lalu saat perasaan itu hadir, seringkali kita merasa, itu adalah ‘salahnya’ anak. Padahal, sejatinya, itu adalah kesalahan kita dalam mendidik. Maka, TAUBAT adalah bagian terpenting dalam proses mendidik anak. Jangan hanya banyak harapan terhadap anak, tapi perbanyak taubat, perbanyak tafakur.

Teteh cerita, bagaimana dulu Ghaza (putra ke-6), adalah anak yang kerjanya hanya main PS saja. Gak semangat belajar, sampai harus mengenakan kacamata dengan silindris 6 karena hobinya itu. Teteh saat itu merasa berdosa, karena tidak tegas dan tidak banyak menghabiskan waktu bersama Ghaza. Lalu saat berkesempatan umroh, teteh menangis di multazam….bertaubat…mengakui kesalahannya dalam mendidik anak, dan memohon agar Allah mengampuni. Sepulang umroh, Ghaza ditanya oleh salah seorang ustadz di DT, mau tidak Ghaza menghafal qur’an? Ghaza langsung jawab mau, tanpa ba-bi-bu. Padahal, sebelumnya sulit sekali mengarahkannya. Singkat cerita, dalam waktu 6 bulan, Ghaza sudah berhasil menyelesaikan 27 juz hafalan qur’annya, dan tuntas 30 juz hanyadalam waktu 8 bulan saja.

Sehingga, benarlah, taubat kita, adalah pembuka jalan. Ketika kita bertaubat, memohon ampunan Allah atas kefakiran ilmu kita dalam mendidik anak, Allah akan bukakan jalan.
Selain itu, mencintai anak, artinya mendoakannya dengan penuh cinta. Bukan sekedar kata-kata tak berarti, melainkan kata-kata yang lahir dari hati. Saya mempraktekkannya sejak punya anak pertama 11 tahun yang lalu. Ilmu ini pun saya peroleh dari teh Ninih, waktu saya masih nyantri di DT: Setiap Sholat malam, usahakan sholat dengan rakaat 2-2-2-2, agar kita memiliki banyak waktu untuk mendoakan anak dan suami. Setelah dua rakaat pertama.,doakan orang tua dan suami dengan penuh cinta. Lalu, setelah dua rakaat kedua, doakan anak yang pertama. Setelah dua rakaat ketiga, doakan anak yang kedua, dst.

Perhatikan, setiap kali iman kita sedang baik, cinta kita sedang penuh, anak akan menjadi sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sebaliknya, setiap kali iman kita sedang lemah, kita sedang futur, anak pun akan terasa sulit diatur, dll. Maka, penuhi diri dengan energi iman, sehingga cinta akan lahir tanpa diminta.

Anak-anak yang dibesarkan dengan cinta, insya Allah akan menjadi pribadi yang penuh cinta pula. Dengan cinta kita mendidik anak, dengan ilmu kita mengasuhnya.

Sungguh, berada di sana bersama para ibu luar biasa ini, menyadarkan saya betapa luasnya ilmu Allah dan betapa sedikit ilmu yang sudah saya tahu dan amalkan..
Semoga bermanfaat.

Sumber: Penulis: Thasya Sugito

Tidak ada komentar:

Posting Komentar