.
Gaya Pengasuhan
Gaya Pengasuhan Otoriter
Gaya pengasuhan jenis ini lumayan kaku karena aturannya yang ketat dan aturannya ini mengharuskan anak untuk mematuhi, sikap orang tuanya otoriter. Orang tua dengan sifat ini adalah mereka yang selalu memberikan banyak sekali tuntutan kepada anaknya dan mau tidak mau anak harus mengiyakan dan melaksanakannya, dan biasanya orang tua dengan metode pengasuhan seperti ini berharap anaknya menjadi anak yang tegas dan tidak lembek namun mereka ga pernah tau bahwa bukan dengan cara seperti ini untuk menciptakan anak yang sekuat baja, karena semasa anak - anak kasih sayang, perhatian dan manja - manjaan sama orang tua itu perlu agar anak percaya dirinya keluar dan agar anak selalu bahagia.
Gaya Pengasuhan Permisif, ini kebalikan dari otoriter. Gaya pengasuhan anak ini lebih banyak memanjakan anak. Lah kok memanjakan ga boleh, keras juga ga boleh? pusing deh. Gaya pengasuhan ini membebaskan anak untuk menentukan dan memilih keinginannya dan memperbolehkan anak untuk mengemukakan pendapatnya, kebalikan dari gaya otoriter gaya pengasuhan permisif ini lebih ringan dan tidak ada pengawasan ketat dari orang tua. Hampir apa yang anak inginkan dikabulkan dengan mudahnya yang penting anak senang. Memang, kebahagiaan anak nomor satu namun orang tua dengan gaya ini lupa bahwa anak nantinya akan memiliki ketergantungan pada orang tua dan kurang mandiri.
Gaya Pengasuhan Otoritatif, dari dua gaya pengasuhan anak, banyak yang bilang gaya ini adalah yang sangat tepat untuk diterapkan dalam pengasuhan anak. Orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan ini cenderung lebih berpikir dengan logika serta pikiran yang positif dan jarang sekali menghukum anak. Orang tua dengan gaya pengasuhan ini lebih pandai membaca perasaan anak dan kemampuan anak, ini baik sekali mendukung perkembangan anak dari berbagai segi. Orang tua dengan gaya pengasuhan jenis ini adalah mereka yang menjalin komunikasi sangat baik dengan anak, dan komunikasi baik ini digunakan untuk mengontrol anak juga, anak menjadi lebih terbuka dan mau bercerita tentang banyak hal kepada orang tuanya.
. .
Kita ini Orangtua atau Bos di Rumah?
Ayah Bunda, dalam diri anak-anak Anda bisa jadi ada darah Anda. Hanya saja, tidak semua orangtua jadi orangtua sebenarnya untuk anak-anaknya, tapi hanya menjadi Bos Anak, yakni menjadi Bos di Rumah untuk anak-anaknya.
Bos Anak, membuat takut dalam diri anak-anaknya
Orangtua membangun kepercayaan anak-anaknya
Bos Anak sering mengatakan “Pokoknya Mama Papa Tidak Mau….”
Orangtua sering mengatakan “Mama Papa Sangat Senang Jika Kamu….”
Bos Anak sangat tahu bagaimana mengatur anak
Orangtua sangat tahu bagaimana membina anak
Bos Anak selalu mengendalikan anak
Orangtua membantu anak mengendalikan dirinya sendiri
Bos Anak berfokus pada keburukan anak
Orangtua berfokus pada kebaikan anak
Bos Anak bicara pada saat anak berantem
Orangtua bicara pada saat anak rukun
Bos Anak menguasai anak
Orangtua bekerjasama dengan anak
Bos Anak menyelesaikan hampir semua masalah anak
Orangtua melatih anak menyelesaikan masalahnya sendiri
Bos Anak sangat lihai menyalahkan saat anak bermasalah, mundur ke belakang
Orangtua rendah hati menemukan solusi bersama saat anak bermasalah, maju ke depan
Bos Anak mengatakan “lain kali jangan kayak gitu!” saat anak minta maaf
Orangtua mengatakan “Subhanallah, alhamdulillah, anak Mama Papa berlapang dada meminta maaf”
Bos Anak itu otoriter pada anak
Orangtua itu otoritatif pada anak
Bos Anak nonton tv pada saat anak belajar
Orangtua mematikan tv pada saat anak belajar
Bos Anak selalu menanyakan ‘bagaimana pelajaran kamu hari ini? Bagaimana nilaimu?’
Orangtua menanyakan ‘apa yang membuatmu tertawa hari ini di sekolah nak?
Bos anak menceramahi anak ‘mama papa bilang apa, kamu sih banyak main, nilaimu jadi jelek begini, prestasimu turun!’
Orangtua bicara dengan anak ‘mama papa yakin kamu kecewa dan sedih dengan nilai belajarmu. Adakah yang bisa mama papa bantu agar nilaimu jadi lebih baik?’
Bos anak mengusir anak saat pulang kerja ‘sana jangan dekat-dekat, kamu tahu mama papa kan capek!’
Orangtua merengkuh anak saat pulang kerja ‘sini anak-anakku. Siapa dulu yang mau bercerita?’
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar