Sabtu, 18 November 2017

Keikhlasan Hati Fatimah

Alhamdulillah...
Kita masih di pertemukan lagi dg hari Jumat yg penuh berkat...

Mari kita baca sejenak Kisah ini...
(Rasulullah SAW yang tak mampu menolong orang tua yang miskin tapi keajaiban datang)

"KEIKHLASAN HATI FATIMAH PUTRI RASULULLAH"

Seperti biasanya siang itu matahari memanggang kota Makkah dengan amat terik.

Hari itu, Rasulullah baru saja berjama'ah sholat Dhuhur bersama para sahabat.

Sesaat mereka selesai membaca dzikir, tiba-tiba seorang laki-laki tua menyeruak dari shaf paling belakang.

Dengan merunduk-runduk ia melangkahi beberapa saf, langsung duduk di belakang Rasulullah.

Bau anyir keringat di tubuhnya menyebar...
Tubuh lelaki tua itu kurus, ceking dan kumuh penuh debu...
Kumis dan jambangnya lebar, rambutnya gondrong tak terurus.

Dengan terbata-bata, pria tua itu memohon kepada Rasulullah...
"Assalamualaikum, Yaa Rasulullah... Sudah beberapa hari ini aku kelaparan, Tubuhku hampir telanjang karena hanya kain selembar dan compang-camping ini yang kupakai."

Aku datang dari pedusunan, nun jauh di puncak bukit sana.
Aku lapar dan capek.
Karena itu maaf ya Rasulullah...
Aku tak bisa ikut serta sholat berjama'ah karena tidak mampu menutup aurat.
Adakah sesuap gandum yang bisa mengganjal perutku dan selembar kain sebagai penutup aurat?"

Sebenarnya Rasulullah sangat iba melihat kondisi orang itu.
Wajahnya pucat, bibirnya membiru dan tangannya gemetar memegang tongkatnya.

Tapi apa mau di kata...
Beliau sedang tidak punya apa-apa yang bisa diberikan kepadanya.

"Siapakah engkau, wahai saudaraku?" Tanya Rasulullah dengan lembut sambil menjabat tangannya, sementara telapak kirinya menepuk pundak musafir tua yang kelaparan itu.

"Nama tidaklah penting ya Rasulullah...
Tapi aku adalah seorang Arabi, orang dusun yang sangat miskin...
Aku sangat merindukan bisa bertemu dengan Engkau, wahai kekasih ALLAH...
Apalagi jika Engkau siap mengenyangkan perutku dan membantu menutup autratku sampai aku bisa kembali sholat" jawab lelaki tua itu terbata bata...
Tubuhnya gemetar.

Rasulullaah sangat terharu...
Lalu bersabda...
"Sayang sekali, wahai saudaraku...
Saya sendiri saat ini juga tidak punya apa-apa seperti hal nya engkau...

Tetapi orang yang menunjukkan kebaikan, sesungguhnya sama saja pahalanya dengan orang yang berbuat kebaikan...

Karena itu saya sarankan agar saudaraku datang kepada orang yang di cintai ALLAH dan Rasul NYA, yang lebih mementingkan ALLAH ketimbang dirinya sendiri...

Rumahnya sangat dekat dengan rumahku, (yang dimaksud adalah Fatimah az-Zuhra, putri Rasulullah), mungkin ada sesuatu yang bisa diberikan kepadanya sebagai sedekah."

Dengan diantar oleh Bilal bin Robbah, bekas budak belian berkulit hitam, berangkatlah musafir tua itu kerumah Fatimah.

Siang itu, kebetulan Fatimah ada di rumah, yang seperti hak nya rumah Rasulullaah, sangat sederhana.

Dengan sangat santun, pria itu berkata...
"Assalamu'alaikum, wahai putri Rasulullah..."

Suaranya serak serak, tubuhnya gemetar, hampir saja jatuh terkulai.

"Wa'alaikumussalam...
Siapakah kakek...
Adakah sesuatu yang dapat saya Bantu?"

Dengan penuh harap, sementara kedua bola matanya berkaca-kaca,
Lelaki tua itu menjawab...

"Wahai putri Rasulullah kekasih Allah...
Aku lapar sekali dan tidak punya apa-apa...
Aku datang kepada ayahmu...
Tetapi beliau sedang tidak punya apa-apa...
Aku disuruhnya datang kepadamu. Mungkin engkau, punya sedekah untukku...?"

Mendengar kata-kata yang mengharukan itu, Fatimah bingung.
Ia tak berdaya...
Ia tidak memiliki barang yang cukup berharga untuk di sedekahkan.

Padahal selaku keluarga Rasulullah itu telah terbiasa menjalani hidup amat sederhana, jauh di bawah taraf kehidupan rakyat jelata.

Tapi hatinya tak tega membiarkan lelaki tua dan miskin itu tetap kelaparan sementara tubuhnya hampir-hampir tak tertutup.

Setelah mencari-cari sesuatu di sekeliling rumahnya yang sempit itu, akhirnya Fatimah mendapatkan dan memberikan satu-satunya yang dianggapnya masih lumayan berharga...
Walau cuma selembar kulit kambing yang biasa dipakai sebagai alas tidur Hasan dan Husain.

Dengan ikhlas, ia pun menyerahkan kepada sang tamu musafir tadi.

Tentu saja laki-laki tua itu terheran-heran...
Ia butuh makanan karena berhari-hari perutnya keroncongan.
Ia pun juga hampir telanjang karena sudah lama pakaiannya hanya selembar kain kumal yang sudah compang-camping...

"Wahai Putri Rasulullah kekasih Allah...
Saya datang kemari karena lapar dan mengharapkan selembar kain penutup aurat...
Apakah kulit kambing itu dapat mengenyangkan perutku dan dapat kupakai untuk sholat?" Tanya orang tua itu...

"Yang engkau berikan hanya ini...
Apa yang bisa aku perbuat dengan selembar kulit kambing ini?" Kata orang tua itu dengan memelas.

Fatimah pun malu bukan main...
Ia bertambah bingung...
Dan kembali masuk kedalam rumahnya, matanya mencari-cari lagi sesuatu yang barangkali dapat ia sumbangkan kepada orang tua miskin itu...

Tapi sungguh, tak ada satupun barang atau makanan yang layak untuk diberikan.

Ia bertanya-tanya...
Mengapa ayahku mengirimkan orang ini kepadaku ??
Padahal ayah tahu aku tidak lebih kaya dari beliau.

Sesudah merenung sejenak barulah ia teringat akan seuntai barang pemberian Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutholib, bibinya.

Barang itu sangat indah, namun ia merasa kurang pantas memakainya karena ia dikenal sebagai pemimpin umat.

Barang itu adalah sebuah kalung emas...
Buru-buru diambilnya benda itu dari dalam kotak simpanannya...
Lalu dengan rasa ikhlas kalung kesayangan itu Ia berikan kepada lelaki tua itu

Dengan senyum ramah...
Fatimah pun menyerahkannya...
"Kakek...
Ambillah kalung ini.
Inilah satu-satunya benda berharga yang sempat saya miliki dan layak saya berikan pada kakek.
Ambillah...
Saya mengikhlaskannya.
Mudah-mudahan ALLAH SWT berkenan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih berharga." katanya dengan lembut tapi penuh hormat.

Nada bicara wanita terhormat itu sangat menyentuh hati.
Lelaki tua itu terbelalak melihat benda yang kini digenggamnya.
Begitu indah, pasti mahal harganya.

Dengan suka cita dan wajah berseri, orang itu pun kembali menghadap Rasulullah...
Diperlihatkannya kepada beliau kalung emas pemberian Fatimah.

Ia pun menceritakan betapa Fatimah dengan ramah dan lembut namun penuh hormat memberinya seuntai kalung emas yang tak ternilai harganya.

Mendengarkan cerita orang tua itu, Rasulullah terharu dan tak mampu menahan airmatanya yang tak terasa meleleh satu demi satu sambil beliau berdoa...
"Semoga ALLAH membalas keikhlasannya."

Diantara jama'ah yang ada pada saat itu ada salah satu sahabat Rasulullah yang cukup mampu, Abdurrahman bin Auf.

Melihat dan mendengar cerita orang tua musafir itu, Abdurrohman pun berkata...
"Ya Rasulullah...
Bisakah saya membeli kalung itu?"

Sambil menyeka kedua belah pipinya yang basah oleh air mata, Rasulullah pun menjawab...
"Belilah, jika engkau bersedia."

Abdurrohman pun kemudian mendekati lelaki tua yang menimang-nimang kalung itu...
"Pak, berapa kalung itu mau kamu jual?" Tanyanya kepada musafir itu.

Lelaki tua itu menoleh kepada Rasulullah dan bertanya...
"Dapatkah aku jual kalung ini ya Rasulullah?"

"Silahkan...
Kalung itu milikmu" sahut Rasulullah

Orang itu lantas berkata kepada Abdurrahman bin Auf...
"Seharga beberapa potong roti dan daging yang bisa sekedar mengenyangkan perutku...
Tapi kalau bisa tambahkanlah dengan secarik kain penutup aurat agar aku bisa menghadap ALLAH dengan sopan dan bersih, serta beberapa keping dinar agar aku bisa pulang ke dusunku"
Jawab lelaki tua itu.

"Baiklah, Kalung itu saya beli dengan 20 dinar dan 100 dirham.
Selain itu saya tambah dengan roti dan daging secukupnya, Saya juga akan memberi pakaian serta seekor unta agar engkau bisa pulang kembali ke keluargamu di dusunmu" kata Abdurrahman...

"Alangkah baik budimu...
Saya terima tawaranmu" ujar orang tua itu sembari melangkah menjabat tangan Abdurrahman.

Abdurrohman pun mengantar orang tua musafir itu mengambil semua yang dijanjikan di rumahnya.

Kini, musafir tua yang dekil itu bersemangat dan berseri-seri.
Ia sudah kenyang, tubuhnya bersih.
Dengan pakaian yang rapi...
Ia mengendarai onta yang sehat.

"Bagaimana keadaanmu sekarang, saudaraku?" Tanya Rasulullah.

"Alhamdulillaah...
Terima kasih wahai kekasih ALLAH...
Aku telah mendapatkan yang lebih dari yang aku butuhkan.
Bahkan aku merasa telah menjadi orang kaya." Kata lelaki tua itu.

Rasulullah menjawab...
"Terima kasih kepada ALLAH dan Rasul NYA harus diawali dengan berterima kasih kepada yang bersangkutan. Balaslah kebaikan Fatimah."

Kontan, orang tua itu pun mengangkat kedua tangannya ke atas...
"Ya, ALLAH...
Aku tak mampu membalas kebaikan Fatimah dengan yang sepadan...
Karena itu hamba memohon kepada-MU, berilah Fatimah balasan dari hadirat-MU berupa sesuatu yang tidak terlintas di mata, tidak terbayang di telinga dan tidak terbesit di hati, yakni surga-MU, Jannatun Na'im."

Rasulullah menyambut do'a itu dengan "Aamiin" seraya tersenyum ceria.

Beberapa hari kemudian...
Budak Abdurrohman bin Auf bernama Sahm datang menghadap Rasulullah dengan membawa kalung yang dibeli dari orang tua itu.

"Ya Rasulullah," ujar Sahm, "Saya datang kemari diperintah Tuan Abdurrohman bin Auf untuk menyerahkan kalung ini untukmu, dan diri saya sebagai budak diserahkannya kepadamu"

Rasulullah tertawa...
"Kuterima pemberian itu...
Nah, sekarang lanjutkanlah perjalananmu ke rumah Fatimah, anakku.
Kalung ini tolong serahkan kepadanya, Juga dirimu kuberikan untuk Fatimah."

Sahm lalu mendatangi Fatimah di rumahnya...
Dan menceritakan pesan Rasulullah untuknya.

Fatimah dengan lega menerima dan menyimpan kalung itu di tempat semula...
Lantas berkata kepada Sahm...
"Engkau sekarang telah menjadi hakku, Karena itu engkau kubebaskan.
Sejak hari ini engkau menjadi orang yang merdeka."

Sahm tertawa nyaring sampai Fatimah keheranan...
"Mengapa engkau tertawa?"

Mantan budak itu menjawab...
"Saya senang menyaksikan RIWAYAT SEDEKAH dari satu tangan ke tangan berikutnya...
Kalung ini tetap kembali kepadamu, wahai putri Rasulullah...
Namun karena keikhlasan...
Kalung ini telah membuat kaya orang miskin...
Telah menjamin surga untukmu...
Dan kini membebaskan aku menjadi orang yang merdeka."

SUBHANALLAH...

Kawan...
Di Jumat yang barokah ini...
Sisihkanlah REJEKIMU dengan penuh keikhlasan...
Masih banyak saudara kita (umat muslim) yang susah dan berharap kemurahan hati dari kita (yang lebih mampu dari mereka) untuk bisa berbagi pada mereka.
Inshaa Allah akan menjadi jalan pembuka pintu SURGA kita di akhirat kelak...

Semoga bermanfaat...
Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar