Sabtu, 17 Desember 2016

Andai Waktu dpt Berputar Kembali

Abdurrahman Ukasha (4th) selalu rajin mengambilkan sisir rambut untuk diberikan kepada mama, sambil meminta tolong, agar rambutnya disisirkan.

Abdul Malik yang menjelang 7, sering merasa iri pada adiknya dan juga minta dimandikan oleh mama sesekali.

Azzama Munjiza (11 th) masih tetap merengek terkadang untuk sekedar ditemani tidur walau cuma sebentar.

Seakan akan mereka belum rela melepaskan masa kekanak-kanakkannya.

Sementara disatu sisi, sebagai ibu rumah tangga, kita terkadang sudah terlalu lelah untuk menanggapi maslaah remeh temeh seperti demikian.

Padahal, Ukasha bukan karena manja, meminta mama untuk menyisirkan rambutnya. Karena memang ia motorik kasarnya blm sempurna untuk bisa menyisir rambut sendiri sehingga rapi.

Kendati Abdul Malik sudah bisa mandi sendiri, terkadang ia masih kangen dengan sentuhan sayang mamanya yang dulu sehari-hari dirasakan ketika dulu ia masih dimandikan setiap harinya. Semakin tahun berganti, semakin sentuhan itu berkurang. Ia rindu. Ia tak tahu bagaimana untuk mendapatkannya kembali.

Sedangkan Azzama, yang sedang berjalan menuju gerbang kedewasaan, sesekali, ingin bermesra-mesraan sama mama di tmpt tidur sblm memejamkan mata malam itu.
Dengan adanya dua adik yang mengharuskan ia berbagi waktu dan kasih sayang orang tuanya, dan semakin tinggi menjulang usia dan tubuhnya, semakin mandiri ia, begitu juga semakin jauh jarak orang tua dengannya dikarenakan org tua merasa, ia sudah cukup dewasa dan tidak lagi memerlukan perhatian sebanyak adik adiknya.

SALAH!

Sebagaimana, masing masing anak diharapkan baktinya pada orang tua, maka setiap anak juga BERHAK atas perhatian, kasih sayang dan waktu orang tuanya, sesuai dengan usia dan porsinya.

Saya lebih sering dari tidak, mengedepankan letih dan lelah saya yang sudah bergumul seharian dengan rutinitas kehidupan rumah tangga, mengharapkan anak anak saya untuk tidak lagi membebankan hal hal kecil yang saya rasa mereka sudah bisa lakukan sendiri, kepada saya, diakhir hari.

Sampai....

Dua hari yang lalu, saya menemukan video tentang nenek nenek yang sedang berbicara tentang apa yang ingin mereka rubah, jika waktu bisa diputar kembali..

Hampir semuanya,
dengan susunan kata yang berbeda-beda,
mengatakan bahwa....

Mereka ingin bisa lebih lama berbaring dan menidurkan anak mereka di malam hari.
Membacakan cerita.
Bermain.
Memandikan.
Menyisiri rambut.
Tertawa bareng.
Dicium pipi sampai basah oleh balita balita mereka.

Mereka berangan...
Andai waktu bisa diputar...
Untuk bisa memberi makna pada masa -masa indah tersebut, dengan meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian, menikmati detik per detiknya, sebelum mereka menyadari, bahwa semua itu hanya sekejap saja.

Kini anak-anak mereka sudah besar, dan mempunyai anak-anak sendiri. Giliran mereka pula yang melewati masa masa tersebut.

Sang nenek hanya bisa menatap, dengan sedikit sedih... andai... dulu ia lebih menikmati waktunya menjadi ibu.
Menyisiri rambut si kecil yang sudah wangi.
Membiarkan si abang memeluknya sambil menggantungkan badannya.
Membacakan buku cerita berulang ulang sabil tertawa. ...
... dan banyak hal lainnya.

Saya tertunduk.
Menetes air mata, saya hentikan menonton videonya. Saya mengalami tsunami rasa syukur mengguyur hati saya.

Tidak ada kata kebetulan bagi Allah.

Saya berterima kasih padaNYA, yang menunjukkan video ini tepat pada waktunya.

Ketika masa itu sedang saya jalani sekarang.
Ketika saya masih bisa memperbaiki keadaan.
Terkadang, kita ingin sekali anak kita cepat besar dan mandiri...
Hanya untuk menyesalinya dikemudian hari.

Semoga kedepannya, tidak ada rasa penyesalan saya, sebagaimana nenek-nenek tersebut mengharapkan waktu bisa diputar kembali.

Walau saya yakin, mereka sudah menjadi ibu yang terbaik di zamannya. Semoga, saya bisa lebih baik. Semoga tidak ada penyesalan di hari tua saya.

Bismillah...

Kuala Lumpur,
Penghujung tahun 2016

Wina Risman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar